//
you're reading...
Gagasan

PENGUKUHAN PERILAKU DAPAT MENINGKATKAN KINERJA INDIVIDU

Pengukuhan dalam pelaksanaan pekerjaan

Dalam analisis fungsional, telah dipelajari bagaimana orang-orang mau bekerja menurut cara yang mereka lakukan. Ternyata, mereka mau bekerja karena ada konsekuensi dari luar yang mengukuhkan perilakunya! Secara teoritis, perilaku orang melakukan pekerjaan mengikuti rangkaian: anteseden-behavior-consecuence atau pertalian stimuli-perilaku-pengukuhan (Gibson, 1987).

Stimuli (anteseden) merupakan awal dari seseorang melakukan suatu aktivitas, yang berupa sesuatu yang terpikir sebelum munculnya perilaku yang pasti. Hal ini berarti segala sesuatu pendorong yang datangnya dari lingkungan pekerjaan. Muncul setiap hari baik dalam kehidupan maupun di tempat kerja. Sebagai contoh, sebuah fakta seseorang berada di sebuah home-page di internet adalah merupakan akibat dari sebuah antesenden.

Anteseden merupakan bagian yang sangat penting yang menunjukkan sebuah perilaku tersebut dimulai. Dalam pekerjaan, anteseden ini dapat berupa: kebijakan, tujuan, perintah, pengumuman, pelatihan, prosedur, pernyataan dalam visi organisasi. Anteseden merupakan sebuah rangkaian dari sebuah perilaku kerja atau kinerja, tetapi tidak pasti hal-hal tersebut di atas akan terjadi. Sehingga seorang manajer harus sering menggunakan anteseden. Namun, rata-rata 80% dalam praktek, para manajer melupakan unsur perilaku dan pengukuhan.

Perilaku (behavior) merupakan proses cara seseorang mengerjakannya. Perilaku merupakan sebuah unsur yang menjadi pusat perbedaan manusia. Dalam pekerjaan, tanpa perilaku tidak akan ada produksi. Perilaku merupakan kata kunci, sebab dalam pekerjaan sangat banyak perilaku yang muncul yang menyebabkan sebuah hasil tertentu. Perilaku dapat diobservasi sehingga kita dapat membetulkan, menjumlah dan menilai dan selanjutnya kita dapat mengelolanya. Jika seorang manajer menaruh perhatiannya hanya pada pengelolaan hasil saja tidak akan selalu efektif, karena perilaku merupakan bagian dari keseluruhan proses dan hasil itu adalah keluaran dari perilaku.

Konsekuensi (consequences) atau disebut sebagai reinforcement merupakan pengukuhan atau tanggapan atas perilaku seseorang. Secara operasional, pengukuhan adalah segala sesuatu yang meningkatkan kekuatan respon dan cenderung mendorong repetisi perilaku. Pengukuhan (reinforcement) memegang peranan yang penting pada proses belajar dalam organisasi. Proses belajar dalam organisasi, merupakan proses perubahan perilaku yang dapat digunakan dalam rangka meningkatkan produktivitas dan kepuasan pegawai. Secara konseptual pengukuhan berkaitan dengan proses psikologis dari motivasi- yang merupakan proses psikologis dasar. Sedang pengukuhan dipicu oleh kondisi lingkungan. Dengan demikian motivasi merupakan proses internal dari perilaku, sedangkan pengukuhan merupakan proses eksternal perilaku (Prawirosentono,1999).

Segala pengukuhan baik yang bersifat positif maupun negatif akan mempengaruhi probabilitas repetisi. Pengukuhan positip yang diberikan pada individu akan memperkuat perilaku dengan munculnya konsekuensi yang diharapkan. Ada beberapa bentuk pengukuhan, yaitu: pengukuhan positif, pengukuhan negatif, hukuman dan pemadaman. Pengetahuan akan prinsip-prinsip ini sangat bermanfaat bagi organisasi yang dapat digunakan dalam mengorganisir perilaku pada saat hendak dikembangkannya sistem imbalan.

Pentingnya pengukuhan dalam peningkatan kinerja pegawai

Ada cara-cara memodifikasi perilaku pegawai agar tercipta tingkat kinerja pegawai pada tingkat tertentu. Cara-cara tersebut meliputi: penjelasan rincian tugas (task clarification), pemberian pengukuhan positif (positif reinforcement) dan umpan balik yang korektif (corrective feedback).

Penjelasan rincian tugas berguna untuk mengukur ketepatan komponen perilaku yang diharapkan dari sebuah tugas. Dalam hal ini peran supervisor dalam mendelegasikan tugas terutama untuk pertama kali kepada pegawai harus memberikan informasi yang memadai tentang hal-hal yang harus dikerjakan dalam penyelesaian tugas. Umpan balik yang korektif merupakan hal yang sangat sederhana dan paling efektif dalam peningkatan kinerja. Hasil penelitian Daniels dan Rosen (1982) terhadap kasir toko menunjukkan adanya peningkatan perilaku dengan diberikan umpan balik kinerja, kejelasan sasaran dan peningkatan pemberian waktu istirahat sebagai imbalan.

Pengukuhan positif (positive reinforcement) sangat efektif dalam peningkatan kinerja manajemen terutama tingkat individu jika diberikan secara sungguh-sungguh (sincere), bersifat khusus (specific), segera (immediate), bersifat pribadi (personal) dan sering (frequent).
Untuk memperoleh gambaran yang lebih luas tentang pengukuhan individu (individual reinforcement) menurut Marr dan Roesler (cit. Daniels dan Rosen, 1982) agar pengukuhan sosial (social reinforcement) dapat diberikan secara nyata dan tepat dalam peningkatan kinerja pegawai, perlu dilakukan observasi hal-hal tentang: (1) topik yang yang disenangi pegawai (2) hal-hal yang mereka kerjakan pada waktu-waktu senggang (3) orang-orang yang menjadi teman bekerjanya dalam melaksanakan tugas, serta (4) hal-hal yang ingin mereka kerjakan selama waktu istirahat. Dengan cara melakukan observasi, pengukuhan yang tepat dan layak dapat dipelajari. Hanya sayangnya, menurut Daniels (1982), pembicaraan hal tersebut hanya disibukkan pada orang-orang tentang hal-hal yang diinginkan, sedangkan hanya ada sedikit waktu untuk mendengarkan tentang hal-hal yang mereka inginkan.

About cokroaminoto

Lahir di Pekalongan, 29 Nopember 1966. Berkeluarga, dengan 2 anak. Sejak SD hingga SLTA Kejuruan lulus di Pekalongan. Menjalani ikatan dinas dari Departemen Kesehatan sejak 1987 di Kebumen. Pada tahun 1996 menyelesaikan program sarjana FISIP, dan pada tahun 2001 lulus program pasca sarjana Manajemen Kesehatan di UGM Yogyakarta. Sejak itu, mulai tertarik pada wilayah kajian pengembangan kinerja (Walah, sok ilmiah..). Bukan apa-apa, karena dalam dunia kerja, apa lagi kerja di kantoran, persoalan kinerja menjadi biang keladi dan akar permasalahan utama. Bagaimana tidak, maju-mundurnya sebuah kantor, organisasi, bahkan dari sistem pemerintahan tergantung dari sini. Trus, dari mana harus mulai, faktor apa saja yang mempengaruhi, kendala apa saja yang biasa menghambat pengembangannya. Apa kita bisa memperbaikinya? Hal-hal inilah kemudian yang menjadi motivasi saya untuk membuat blog ini. Eh syukur menjadi tempat berbagi pendapat dan pengalaman. Amin

Discussion

2 thoughts on “PENGUKUHAN PERILAKU DAPAT MENINGKATKAN KINERJA INDIVIDU

  1. Bagaimana Pengaruh Budaya Organisasi terhadap Kinerja Karyawan

    Posted by Suminto | November 30, 2007, 3:44 am
  2. Suminto, terimakasih pertanyaannya. Pertanyaan anda pernah saya bahas dalam site ini. coba anda lihat pada respon untuk sunan

    Posted by cokroaminoto | November 30, 2007, 8:21 am

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Selamat Datang. Anda adalah pengunjung ke:

  • 528,512

Temui Saya

Di Blogspot. Temui saya Cokroaminoto, untuk berdiskusi masalah Perencanaan Kesehatan untuk membangun kinerja staff, atau bagaimana Menulis Proposal dan Laporan Penelitian untuk kertas kerja (working-paper), Karya Tulis Ilmiah (KTI), Skripsi, Thesis atau sejenisnya atau tertarik untuk melihat dari dekat keragaman budaya Nusantara. Atau membaca koleksi file atau download materi kuliah saya.

Di blogetery.com, anda dapat menemukan juga blog saya, tulisan isteri dan anak saya. Terima kasih.

%d bloggers like this: